Jumat, 11 September 2009

Michio Kaku: Sang Penggiat Teori Superstring

Jagad raya yang maha luas menggelitik relung angan manusia: Dapatkah kita pergi ke sana? Mampukah kita mengarungi samudera bintang, singgah ke planet-planet, berkelana menembus galaksi tanpa butuh waktu lama? Mampukah kita?Jawabannya mungkin saja. Belakangan teori Isaac Newton direkonstruksi, teori Albert Einstein dibongkar lagi, berharap menemukan visi, bahwa jalan memintas galaksi, bahkan mungkin waktu, mungkin saja bisa diarungi.

Salah satu ilmuwan yang sangat concern terhadap kemungkinan masa depan manusia mewujudkan angan-angan itu ialah Michio Kaku. Warga Amerika Serikat keturunan Jepang ini lahir di Palo Alto, California. Ia adalah profesor di bidang Advanced Study di Universitas Princeton dan City University New York. Gelar B.S. dalam bidang fisika (summa cum laude) ia peroleh dari Universitas Harvard, lalu gelar Ph.D ia raih di Universitas California di Berkeley.

Pandangan-pandangannya menarik sekaligus memberikan harapan. Ia salah satu dari segelintir ilmuwan bidang fisika yang serius mendalami Theory of Everything atau teori segalanya, yakni sebuah teori tunggal yang menggabungkan penjelasan ilmiah atas gravitasi, elektromagnetik dan dua kekuatan nuklir yaitu nuklir kuat dan nuklir lemah. Teori ini bisa diartikan sebagai penyatuan gaya kuantum dan gravitasi.

Teori “superstring” atau senar super yang ia kemukakan memperluas pernyataan Einstein bahwa alam semesta terdiri dari empat dimensi ruang dan waktu yang berkembang atau hyperspace. Kelengkungan ruang dan waktu menyebabkan adanya gravitasi. Ketika senar bergerak dalam ruang dan waktu, senar tersebut melintasi ruang dimana hal ini telah diperkirakan Einstein. Dalam bahasa sederhana, gravitasi dapat disatukan dengan kekuatan kuantum lainnya (dua kekuatan nuklir dan elektromagnetik). Cahaya, sebagai bagian dimensi ke-5 merupakan komponen senar lainnya yang jika empat gaya dasar dapat digabungkan, akan menjadi dimensi yang lebih besar, yakni 10 dimensi. Ini akan membantu dalam memahami persoalan tentang ruang dan waktu.

Mengenai perjalanan menyeberangi waktu, salah satu teori yang juga dikupas oleh Michio Kaku ialah teori lubang cacing, suatu saluran yang digosipkan dapat membawa manusia melintasi ruang dan waktu. Seperti kisah novel “The Time Machine” karangan H.G Wells dimana manusia dapat melintasi masa. Ibarat terowongan, dua ujung lubang cacing terletak bersebelahan dalam ruang namun terpisah dalam waktu. Meski cukup membuat kening berkerut – karena itu artinya kita dapat kembali ke masa lalu, sementara waktu sendiri bersifat paradoks - teori ini bukannya ditabukan karena pernah dikemukakan oleh ilmuwan legendaris Sir Isaac Newton dan pernah pula diutak-atik oleh Einstein.

Persoalan menembus galaksi juga bukannya hal yang jauh dari angan-angan manusia. Michio Kaku lebih meniliknya dari sisi daya yang digunakan karena perjalanan antar bintang membutuhkan energi luar biasa besar. Menurutnya, ini adalah hal pokok sebagaimana untuk menuju ke tempat lain dengan kendaraan bermesin, kita membutuhkan bahan bakar, misalnya bensin. Dalam konteks perjalanan di ruang angkasa, kebutuhan energi akan sangat besar, bahkan jika mesti ditempuh dengan lubang cacing sekalipun.

Mendasarkan pada teori Nicolai Kardashev, seorang astrofisikawan Rusia, tentang tipe peradaban berdasarkan penggunaan energi, Michio Kaku mengemukakan tipe peradaban yang menggunakan sistem propulsi energi untuk mengarungi ruang angkasa yaitu:

  • Tipe 0, dimana pada tingkat ini peradaban tersebut masih menggunakan bahan bakar kimia.
  • Tipe I, pada tingkat ini telah digunakan mesin jet fusi berbahan bakar hidrogen yang merupakan salah satu elemen utama bintang dan planet.
  • Tipe II, dimana peradaban tipe ini telah memanfaatkan teknologi anti materi dan robot teknologi nano Von Neumann dimana robot tersebut mampu mereplikasikan diri dan mampu menganalisa lingkungan di planet yang jauh dari jarak jauh.
  • Tipe III, dimana peradaban telah menggunakan propulsi energi Planck yang memanfaatkan ruang dan waktu.

Sayangnya menurut Michio Kaku, peradaban kita saat ini masih berada dalam tipe 0. Peradaban manusia sekarang masih perlu membakar sisa-sisa makhluk hidup yang telah mati ribuan tahun lampau yang jika diaplikasikan ke perjalanan antariksa, perlu beberapa ratus atau ribu tahun untuk mencapai tingkat kebutuhan energi yang cukup guna mencapai tempat yang jauh di angkasa. Tentu saja hal ini mengundang rasa penasaran sebagian orang terutama jika dikaitkan dengan fenomena UFO yang diduga dikendalikan oleh makhluk ET berperadaban sangat canggih dan telah menguasai tipe energi di atas manusia. 

Sebagai akademisi, Michio Kaku cukup rajin menulis publikasi. Publikasi ilmiah yang ia hasilkan berupa buku teks (untuk tingkat doktoral, bukunya menjadi buku wajib) dan puluhan artikel yang tersebar di sejumlah jurnal ilmu fisika, mencakup teori superstring, teori supergravity, teori supersymmetry dan teori hadronic physics. Selain menulis untuk kalangan akademisi, Michio juga piawai menulis buku sains populer. Salah satu bukunya berjudul “Visions, Hyperspace, and Parallel Worlds”, termasuk dalam daftar buku laris. Buku lainnya yaitu “Visions: How Science will Revolutionize the 21st Century”, serta “Beyond Einstein” yang ia tulis bersama Jennifer Thompson.

Selain sibuk berkutat di lingkungan akademis, Michio Kaku juga kerap muncul di sejumlah saluran televisi terutama tayangan sains populer. Ia salah satu narasumber yang mampu menterjemahkan bahasa ilmiah fisika yang sering bersifat teknis ke dalam pembahasan yang lebih mudah dipahami oleh pemirsa.

Pada tahun 2005 ia tampil dalam sebuah film dokumenter berjudul “Obsessed & Scientific” yang membahas tentang kemungkinan manusia mengarungi perjalanan antar waktu. Lalu, ia tampil di saluran ABC dalam tayangan dokumenter berjudul “The UFO Phenomenon – Seeing Is Believing”. Tayangan ini mengulas fenomena UFO dan penculikan manusia oleh alien.

Di tahun 2006, tayangan dokumenter empat jam di BBC-TV bertajuk “Time” yang ia bawakan menuai pujian dari sejumlah media London. Ini membuat ia didapuk oleh saluran Discovery Channel membawakan acara “2057”. Selain itu, sejumlah program dokumenter lainnya juga kerap menampilkan Michio Kaku sebagai salah satu narasumber.

Selain tampil di televisi, Michio Kaku cukup rajin menyambangi pendengar radio. Ia pernah berbicara di WBAI-FM New York dalam program “Explorations" yang membahas tentang sains, peperangan, perdamaian dan lingkungan secara umum. Lewat jaringan Talk Radio Network di tahun 2006, ia menjadi narasumber program “Scientific Fantastic” yang tayang di 90 stasiun radio. Ia juga secara berkala hadir di acara “Coast to Coast AM” dimana ia banyak berbicara tentang berbagai hal antara lain: keamanan nuklir, peradaban, teori “string”, misi luar angkasa, kosmologi hingga SETI.

Gatot Tri R. - BETA-UFO Edisi 14 Tahun 2009


2 komentar: